Melihat Fenomena Unggahan Anak di Medsos dan Bahayanya Kata Psikolog

JawaPos.com – Tiap orang tua pasti merasa senang dan bangga jika anaknya bisa tumbuh dengan sehat. Sehingga tak jarang, para orang tua ikut membagikan momen tumbuh kembang sang anak ke media sosial.

Jika dilihat, para ibu zaman now memang tidak pernah absen membagikan foto atau video melalui media sosial. Salah satunya dilakukan seorang ibu muda bernama Anggya Olga. Kebahagiaannya menjadi seorang ibu yang memiliki anak pertama merupakan suatu anugerah sehingga rasanya ingin membagikan momen anaknya dengan orang terdekat di media sosial.

“Awal-awalnya memang agak berlebihan saya bagikan di Instagram, tetapi semakin kesini sudah tidak terlalu lagi, paling saya capture ketika saya bersama anak bertemu dengan teman-teman lalu dia melakukan hal-hal lucu, ini merupakan momen bagi saya,” kata Anggya Olga, ketika dihubungi oleh JawaPos.com, Jumat (30/11).

media sosial, medsos,Psikolog, Ratih Ibrahim (Inri Sembiring)

Ia mengaku bahwa berbagi video atau foto anak di media sosial sekedar ingin berbagi cerita misalnya ketika anaknya baru saja berulang tahun yang ke-1. Tentunya senang membagikan hal-hal yang menghibur bukan hanya untuk konsumsi diri sendiri saja.

Ibu berumur 27 tahun ini juga sadar bahwa harus berhati-hati akan pengaruh negatif di media sosial, sehingga ia memang tetap menjaga kontennya tidak berlebihan. Karena ia pun takut ada yang mengomentari hal-hal yang jelek serta disalahgunakan oleh orang asing.

Anggya Olga adalah salah satu ibu dari sekian banyak yang menghiasi akun media sosialnya dengan foto atau video anak. Melihat hal itu, sebetulnya hal yang wajar dengan era saat ini yang tak pernah terlepas dari paparan gadget.

Psikolog, Ratih Ibrahim mengungkapkan bahwa ia sangat paham mengapa orang tua menceritakan tentang anaknya di media sosial. Perilaku tersebut memang wajar sebagai bentuk ingin membagikan kebahagiaannya bersama anak dan keluarga.

Namun, sebelum masuk lebih jauh ke media sosial, para orang tua perlu jeli melihat batasannya. “Bicara aman atau tidak yang perlu diketahui sebelum kita masuk ke media sosial, setiap orang bisa masuk kesitu meskipun di-protect orang bisa membajak dan potensi aman yang terusik sangat besar,” kata Ratih Ibrahim, Psikolog, ketika ditemui di acara Fashion Show Celebration di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (27/11).

Sehingga, ada baiknya jika tidak terlalu berlebihan ketika ingin mengunggah foto. Misalnya, lebih baik hindari unggahan foto yang memerlihatkan bayi Anda sedang telanjang usai mandi. Sebab, yang namanya media sosial, meski sudah diproteksi sebaik mungkin, tetap saja orang jahat punya seribu cara untuk masuk.

“Lucu ya melihat anak-anak kita kan suka gemes lihat dia telanjang, tapi kita tidak tahu ada banyak pedofil predator ada orang-orang yang hatinya belum tentu baik juga bisa akses disitu,” lanjut Ratih Ibrahim.

Maka yang bertanggung jawab atas anak adalah kembali lagi pada orang tua, ketika ingin menayangkan tentang anak bahwa pertama yang dipikirkan adalah keamanannya dan bersikap empati dengan si buah hati.

(Inr/JPC)