Ini Cara Batasi Anak Bermain Gadget Menurut Kak Seto

JawaPos.com – Sesibuk apapun orang tua tentu tak boleh melupakan kewajibannya memperhatikan anak. Tapi di era modern ini,  sayangnya kebersamaan yang sudah terjalin ini kadang teralihkan dengan serunya anak bermain gadget dan media sosial.

Dalam kasus ini bukan berarti anak harus disalahkan. Tetapi peran orang tua menjadi penting untuk berusaha menciptakan suasana yang hangat dan memberi arahan yang baik kepada anak.

Seto Mulyadi atau sering dikenal sebagai kak Seto, menyarankan bahwa orang tua harus kreatifitas agar dapat memancing perhatian anak saat anak mulai terfokus pada gadget.

“Ciptakan daya tarik yang bisa mengungguli gadget, nah katanya gadget bisa merusak mata, yuk diajak jalan keluar ruang melihat yang hijau ternyata lebih menyehatkan mata, atau diajak lari bersama ayah bunda,” ungkap Seto Mulyadi selaku Psikolog anak, ketika ditemui di acara Nivea #SentuhanIbu, Ciputra Artpreneur Jakarta, Rabu (28/11).

Kak Seto menambahkan dengan mengajak anak dalam permainan tradisional juga sangat bagus untuk mempererat kedekatan anak dengan keluarga. Karena pada dasarnya setiap anak rindu kebersamaan dengan ayah bunda. Jika Ayah Bunda sibuk sendiri, maka anak akan lari ke gadget.

Permainan yang merangsang kreatifitas juga bisa dicoba, misalnya balok-balok atau lego agar dia menyusun sendiri. Banyak juga mainan pesawat terbang atau robot-robot untuk bisa dirakit sendiri. Kemudian bisa juga kembali ke alam dengan memanfaatkan pelepah pisang atau kulit jeruk bali untuk dibuat mainan. 

Walau perkembangan teknologi begitu mendominasi anak-anak, mereka sebenarnya bisa dikontrol lewat pemakaiannya. Gadget bisa tetap diperbolehkan asalkan ada komitmen dalam keluarga itu sendiri. Misalnya buat aturan hanya memakai gadget selama satu jam atau setengah jam, jika melanggar akan diberi sanksi yang membangun.

“Kalau mereka dihukum bukan karena sakit hati dengan orang tuanya, disiplin adalah mengikuti komitmen bukan mengikuti orang tua. Jangan mimpi punya anak penurut justru bikin kita frustasi, tapi anak yang mandiri bisa bekerjasama,” tambahnya.

(Inr/JPC)