4 Cara Seru dan Mudah Bagi Orang Tua yang Ingin Mulai Mendongeng

JawaPos.com – Banyak kendala yang dihadapi orang tua ketika harus mendongeng. Kendala tersebut berasal dari ketidakpercayaan diri saat membacakan cerita pada anak.

Banyak yang khawatir, anak tidak tertarik ketika ibu membacakan dongeng. Padahal dongeng bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana.

“Banyak orang tua yang tidak percaya diri duluan, mereka merasa cara menyampaikannya belum bisa. Sebenarnya itu bisa dipelajari, kuncinya membaca cerita itu butuh lebih ekspresif saja agar anak tidak bosan,” kata Ariyo Zidni, Pendiri Komunitas Ayo Dongeng Indonesia, saat ditemui di acara konferensi pers Dongeng Musikal Pohon Impian Nivea #SentuhanIbu, di Ciputra Artpreneur Jakarta, Rabu (28/11).

4 Cara Seru dan Mudah Bagi Orang Tua yang Ingin Mulai MendongengMendongeng dengan ekspresi akan membuat anak antusias terhadap cerita dan tidak bosan (Inri Sembiring/JawaPos.com)

Dongeng bukan hanya bermanfaat untuk anak tetapi menurunkan tingkat stress pada orang tua dari pekerjaan atau masalah lain. Pasalnya dongeng akan menimbulkan canda tawa sehingga memberikan pengalaman yang selalu diingat.

Berikut adalah tips bagi orang tua yang ingin mulai membiasakan mendongeng bagi anak-anaknya!

1. Luangkan Waktu
Mendongeng itu bukan mencari waktu luang tetapi luangkanlah waktu. Hal ini bertujuan agar orang tua fokus pada anak.

2. Pilih Cerita yang Disuka
Jika orangtua suka pada cerita tersebut, otomatis ia akan menguasai. Ketika orang tua menguasai cerita yang didongengkan, orang tua memiliki goals value yang ingin disampaikan pada anak.

3. Baca Dulu Isinya
Usahakan membaca dulu isi dongeng agar tahu ceritanya, apakah benar-benar sesuai dengan usia anak. Hal itu juga akan menentukan lancar atau tidaknya ketika membaca. Membaca cerita perlu ada penekanan pada bagian-bagian tertentu. Misalnya bagian mana yang paling seru, bagian yang ada permainannya, atau bagian mana yang bisa dibunyikan. Dari situlah orang tua berperan memainkan gesture, suara, dan ekspresi.

4. Ekspresi
Agar cerita lebih imajinatif perlu adanya ekspresi yang didukung oleh gesture dan suara. Gesture yaitu bahasa tubuh menggambarkan perilaku tokoh. Sementara suara sebagai penyampaian rasa misalnya membicarakan raksasa dengan penekanan “raksasa itu besaaaaaar”.

(Inr/JPC)